FeatureVox Pop

Sanggar Seni Saung Bagus Daya, Tetap Eksis Lestarikan Budaya Tradisional Sejak 1930an

×

Sanggar Seni Saung Bagus Daya, Tetap Eksis Lestarikan Budaya Tradisional Sejak 1930an

Share this article
Suasana di Saung Bagus Daya pada malam hari.
Suasana di Saung Bagus Daya pada malam hari. Foto: Cireboners/Rifki

Cireboners.id – Saung Bagus Daya merupakan salah satu sanggar seni yang masih aktif dan eksis mempertahankan kebudayaan tradisional, dan menghasilkan berbagai macam produk kerajinan di Kabupaten Cirebon.

Karya seni seperti lukisan, karya ukir, hingga karya batik khas Patalunan yang menjadi ikon khusus keberadaan Saung Bagus Daya di Kabupaten Cirebon.

Jojo (31) Ketua pengelola Saung Bagus Daya menceritakan, keberadaan Saung Bagus Daya telah diwariskan secara turun temurun hingga generasi ke-3.

Ia menambahkan, Saung Bagus Daya pertama kali ada yakni oleh kakeknya, Abah Daya, sekitar tahun 1923, lalu disambung ayahnya sekitar tahun 1963.

Lalu, pada tahun 2012 mulai dikelola oleh Jojo atau cucu Abah Daya, dan sekitar tahun 2017 mengalami masa renovasi bangunan dari bahan dasar kayu ke bangunan bata.

“Nah, untuk histori saung Bagus Daya, itu dari zaman kakek, terus ke bapak, lalu ke saya. Kalau saya mengelola di 2012,” katanya kepada Cireboners, Kamis (27/6/2024).

Meski telah menjadi warisan dari dua generasi sebelumnya, Saung Bagus Daya sempat mengalami masa vakum selama beberapa tahun. Hingga akhirnya Jojo beserta kawan-kawannya kembali melanjutkan pengelolaan tempat tersebut.

“Sebetulnya konteks pengelolaan bareng, jadi melanjutkan, sempat vakum di 1982, kembali lagi di 2012,” ujarnya.

Jojo, ketua pengelola Saung Bagus Daya, Talun, Kabupaten Cirebon.
Jojo, ketua pengelola Saung Bagus Daya, Talun, Kabupaten Cirebon. Foto: Cireboners/Rifki

Filosofi dan Kegiatan

Menurut Jojo, Saung Bagus Daya bukan hanya sekadar sanggar seni belaka, melainkan sebuah tempat yang menerima berbagai macam orang dari berbagai kalangan dan kompetensi.

Selain itu, penamaan Saung Bagus Daya memiliki filosofi khusus yang relevan dengan konteks masyarakat sekitar.

“Saung itu tempat atau rumah, Bagus itu salah satu sisi manusia pasti ada bagusnya, sedangkan Daya itu nama kakek,” tuturnya.

Sementara itu, ada beberapa kegiatan rutin yang dilaksanakan, seperti kelas tari tradisional setiap Sabtu-Minggu yang pesertanya didominasi anak-anak.

Bahkan, peserta kelas tari tradisional tidak dipungut biaya apapun. Jojo hanya mensyaratkan dua hal bagi yang ikut mengikuti kelasnya.

“Tari tradisional, pelatihan setiap Sabtu-Minggu, pesertanya beragam dari berbagai desa dengan dominasi anak-anak. Syarat utamanya yang penting adalah cinta akan budaya dan ada kemauan, alias gratis,” ujarnya.

Sedangkan untuk acara tahunan, terdapat perayaan satu Suro atau satu Muharam yang beriringan dengan pelaksanaan festival Talun.

Pada momentum tahunan tersebut, beberapa agenda dilaksanakan seperti ngunjung buyut, arak-arakan, penampilan kesenian tradisional, dan ditutup doa awal serta akhir tahun.

“Pagi ngunjung buyut, ingat kepada leluhur soal attitude atau adab, bahwa orang yang sudah tiada itulah yang membesarkan nama-nama kita sekarang,” jelasnya.

Adapun alamat lengkap Saung Bagus Daya berada di Jalan Kramat Talun Gang Abah Daya, No. 30 RT/RW 0021/002 Blok Mushollah Wakaf Dusun Talun Desa Cirebon Girang Kecamatan Talun Kabupaten Cirebon. (Rifki)

Visited 17 times, 1 visit(s) today
Dakwah

Cireboners.id – Masjid Merah Panjunan menjadi bukti pusat dakwah Islam di wilayah pesisir utara Jawa Barat oleh Pangeran Panjunan atau Syekh Abdurrahman.

Masjid yang berdiri sejak tahun 1480M tersebut, memiliki desain arsitektur campuran antara Arab dan Tiongkok dengan warna merah dominan mengelilingi masjid.