DaerahVox Pop

Prosesi Damar Sewu Buka Upacara Seren Taun Cigugur 2025

×

Prosesi Damar Sewu Buka Upacara Seren Taun Cigugur 2025

Share this article
Seren Taun Cigugur
Prosesi Damar Sewu dalam upacara pembukaan Seren Taun Cigugur 2025 di Gedung Paseban Tri Panca Tunggal, Sabtu (14/6/2025). Foto: Cireboners/Rifki

Kuningan, CirebonersID – Upacara Seren Taun Cigugur kembali digelar pada tahun ini. Kegiatan tersebut akan berlangsung selama enam hari yaitu dari Sabtu 14 Juni hingga Kamis 19 Juni 2025, bertepatan dengan 22 Rayagung 1958 Saka Sunda.

Prosesi Damar Sewu menjadi pembuka kegiatan Seren Taun Cigugur pada Sabtu malam, Sabtu (14/6/2025). Alunan gamelan dan tari Puragabaya Gebang turut mengiringi khidmatnya prosesi Damar Sewu yang turut disaksikan puluhan masyarakat yang memadati area jalan Paseban Tri Panca Tunggal yang menjadi tempat kegiatan berlangsung.

Makna Damar Sewu

Sesepuh Sunda Wiwitan Cigugur, Subrata menerangkan prosesi Damar Sewu memiliki makna bahwa manusia harus mampu seperti obor yang menerangi atau bermanfaat bagi sekelilingnya.

“Kita semua harus seperti cahaya obor dalam hati nurani kita yang selalu terang, jernih yang bisa menerangi sesama manusia dan alam. Itu simbol dari upacara Damar Sewu,” tuturnya pada Sabtu (14/6/2025).

Sebelum obor dinyalakan, para pemuda berpakaian prajurit membawakan tarian Puragabaya yang berasal dari Gebang. Subrata menjelaskan bahwa tarian ini merupakan simbol para penjaga keselamatan, bukan serangan.

“Tarian ini merupakan tarian prajurit yang digambarkan bukan untuk membunuh tapi menjaga keselamatan. Gerakan tariannya juga cenderung bersemangat, ditarikan oleh 20 orang yang melambangkan 20 aksara Sunda dan 20 sifat wujud raga kita,” jelasnya.

Rangkaian acara juga mencakup ritual Nyandak Pare, Mesek Pare, dan Siraman Baleg Kembang. Ketiganya memiliki filosofi tersendiri yang sarat makna kehidupan manusia.

Nyandak Pare adalah pengambilan padi dari sawah, dan Mesek Pare merupakan proses memisahkan padi dari tangkainya secara bersama-sama.

“Maknanya padi itu kalau dikupas itu ada berasnya dan tunasnya, dari tunas itulah yang membuat padi hidup. Maknanya meruntuhkan sifat egois manusia agar menghargai proses dan bersyukur. Sebagai manusia kita harus menyelami diri sampai ke dalam-dalamnya,” kata Subrata.

Sedangkan Siraman Baleg Kembang adalah ritual penyiraman anak-anak Sunda Wiwitan di taman Paseban, sebagai bentuk harapan agar generasi muda mampu melanjutkan nilai perjuangan para leluhur.

Suasana Berbeda

Kendati dilaksanakan kembali di tahun 2025, upacara Seren Taun Cigugur sedikit berbeda dibanding tahun sebelumnya. Sebab, masih dalam suasana berkabung atas meninggalnya pimpinan Sunda Wiwitan Cigugur, Pangeran Djatikusuma, untuk tradisi yang bersifat meriah atau hiburan ditiadakan terlebih dahulu.

“Karena Pupuhun (Pemimpin) Sunda Wiwitan Cigugur baru meninggal sekian hari yang lalu. Masih dalam kondisi berkabung. Tapi untuk tradisi atau acara lain seperti mengadakan seminar atau dialog itu tetap ada,” tutur Subrata. (Rifki)