CirebonersID — Mentari sudah di atas kepala, namun perahu yang digunakan Slamet (36) melaut masih terikat erat. Tampak sedang dilumuri cat baru berwarna biru bersama rekan melautnya di tepi muara Kesenden, Kota Cirebon.
Sudah dua hari ia tak melaut. Bukan karena malas, tapi karena cuaca tak menentu yang membuat laut tampak lebih menyeramkan ketimbang menjanjikan.
“Kalau pancaroba begini, susah nebak arah angin. Kadang baru keluar sebentar, sudah hujan angin. Kadang pula hasil tangkapan cuma cukup buat beli solar, enggak ada sisa,” kata Slamet, menatap kosong ke arah laut yang bergelombang kecil.
Sebagai nelayan yang sudah lebih dari 20 tahun menggantungkan hidup dari laut, Slamet tahu betul bahwa musim pancaroba adalah masa yang sulit. Cuaca ekstrem yang datang tanpa aba-aba membuat keputusan untuk melaut jadi penuh pertimbangan. Bukan hanya soal keselamatan, tapi juga soal untung-rugi yang sering kali tak seimbang.
“Sekali melaut itu bisa habis Rp300 ribu buat solar, es, sama bekal. Tapi pulangnya, kadang cuma bawa ikan yang kalau dijual, cuma laku Rp200 ribu. Tekor, Mas,” ungkapnya sambil menunjukkan tali tambang perahu yang mulai aus.
Pancaroba menjadi momok bagi nelayan tradisional seperti Slamet. Ia tak punya radar cuaca canggih atau kapal besar yang mampu menjelajah jauh. Perahu kayunya hanya mengandalkan insting dan pengalaman. Tapi, bahkan pengalaman pun tak cukup jika laut sedang marah.
Saat cuaca tidak bersahabat, ia lebih memilih tinggal di rumah. Waktu luangnya ia gunakan untuk memperbaiki jaring, memperkuat perahu, atau sekadar berkumpul dengan keluarga. Namun, diam di rumah tak mengurangi beban pikiran.
“Untuk menutupi kebutuhan harian, dulu sampai jual kapal punya almarhum bapak. Sekarang kalau melaut ikut saudara, Mas,” tuturnya.
“Pernah juga ikut kapal ke Papua, waktunya sampai enam bulan. Cuma paling efektif kerja empat bulan, dua bulannya untuk pulang pergi,” tambahnya.
Meski hidupnya dililit ketidakpastian, Slamet tetap memelihara harapan. Ia berharap cuaca lekas bersahabat, dan hasil laut kembali melimpah. Tapi lebih dari itu, ia juga berharap ada perhatian pemerintah terhadap nasib nelayan kecil.
“Kadang mikir juga, kita ini yang kasih makan orang lewat laut, tapi sering dilupakan. Padahal kami cuma minta laut yang aman dan harga ikan yang pantas,” ucapnya.










