CirebonersID – Pagi di Blok Kebagusan, Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, selalu beraroma tanah basah. Dari gang-gang sempit, aktivitas membentuk tanah liat masih berlangsung. Pelan, sabar, dan nyaris tak berubah sejak puluhan tahun lalu.
Di RT 3 RW 10, Kadmiya menjalani hari-harinya sebagai pengrajin gerabah. Di galeri sederhana miliknya, Kadmiya Craft, berbagai karya tersusun rapi, mulai dari celengan, pot bunga, hiasan dinding, hingga topeng tanah dengan beragam karakter, termasuk topeng khas Cirebon Panca Wanda. Semua dibuat dengan tangan, mengikuti cara yang diwariskan keluarganya sejak lama.
“Ini sudah turun-temurun. Dari orang tua, lalu ke saya,” ujar Kadmiya. “Dulu hampir semua rumah di sini bikin gerabah,” tuturnya , saat ditemui Cireboners, Rabu (31/12/2025).
Sitiwinangun memang dikenal sebagai sentra gerabah. Bahkan, menurut penuturan Kadmiya, jumlah pengrajin pada masa lalu bisa mencapai ratusan keluarga. Kini, jumlah itu terus menyusut. Jika dihitung, pengrajin aktif yang masih bertahan hanya mendekati 50 keluarga.
Penurunan tersebut menjadi ironi bagi desa yang namanya sendiri lahir dari aktivitas warganya. Siti berarti tanah, winangun berarti dibentuk. Bagi Kadmiya, gerabah bukan sekadar produk, melainkan identitas daerah dan budaya.
Ia menambahkan, setiap karya gerbabah selalu melalui proses panjang. Tanah liat diolah, dibentuk, dijemur, lalu dibakar. Proses ini tak bisa tergesa. Kesalahan kecil dapat membuat gerabah retak dan gagal. Kompleksitas inilah yang menentukan nilai jualnya.
“Harganya beda-beda. Ada yang Rp2.000, ada juga yang Rp25.000 atau lebih,” kata Kadmiya. “Tergantung bentuk dan prosesnya.”
Namun, tantangan terbesar gerabah Sitiwinangun bukan pada proses produksi, melainkan pada keberlanjutan. Minat generasi muda untuk menekuni kerajinan ini kian menurun. Faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab. Membuat gerabah membutuhkan waktu, sementara hasilnya tidak bisa langsung dinikmati.
“Anak-anak sekarang banyak yang memilih kerja lain,” ujarnya. “Bikin gerabah itu lama.”
Kekhawatiran itu mendorong Kadmiya mencari cara agar gerabah tetap relevan. Galeri yang ia kelola tidak hanya berfungsi sebagai tempat produksi dan penjualan, tetapi juga dibuka sebagai destinasi wisata kerajinan.

Pengunjung dapat melihat langsung proses pembuatan gerabah, menyentuh tanah liat, dan memahami tahapan yang selama ini jarang diketahui.
“Kalau sudah lihat langsung, biasanya jadi tertarik,” katanya. “Minimal mereka tahu dulu prosesnya.”
Upaya tersebut sejalan dengan dukungan pemerintah setempat yang rutin menggelar Festival Sitiwinangun setiap Agustus. Festival ini menjadi ruang temu antara pengrajin, masyarakat, dan wisatawan. Gerabah diposisikan bukan hanya sebagai komoditas, tetapi juga sebagai warisan budaya.
Di tengah gempuran produk pabrikan dan budaya instan, gerabah Sitiwinangun bertahan dengan caranya sendiri. Setiap bentuk lahir dari kesabaran, dari tangan yang terbiasa bekerja dengan tanah.
“Harapannya masih ada yang mau nerusin, nggak harus banyak,” katanya.
Bagi Kadmiya selama harapan itu masih ada, tanah di Sitiwinangun akan terus dibentuk. Bukan hanya menjadi gerabah, tetapi juga menjadi penanda bahwa tradisi, meski perlahan, masih menemukan jalannya.













