CIREBON – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) mengapresiasi keberanian aktris Aurelie Moeremans yang mengangkat pengalaman pribadinya dalam novel Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah. Karya tersebut dinilai sebagai bentuk nyata dari semangat dare to speak atau berani bersuara terhadap kekerasan seksual.
Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak KemenPPPA, Ratna Susianawati, menyebut langkah tersebut sebagai keputusan besar yang patut dihargai. Pasalnya, tidak semua korban kekerasan seksual memiliki keberanian untuk mengungkap pengalaman traumatis yang dialami.
“Ini justru harus kita apresiasi. Artinya, ada keberanian untuk menyampaikan. Tidak semua korban berani melakukan hal ini,” kata Ratna di Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu (14/11/2025).
Ratna menambahkan, pengakuan semacam ini dapat menjadi contoh positif bagi korban lain agar tidak memendam pengalaman pahitnya sendirian. Menurutnya, setiap laporan atau pengungkapan akan mendapat perhatian dari negara.
“Ketika pengalaman itu disampaikan, tentu akan menjadi perhatian kami,” ujarnya.
Memoar Aurelie yang menyinggung praktik grooming disebut sebagai satu dari sekian banyak kasus yang belum terungkap ke publik. Ratna menilai kekerasan seksual terhadap anak masih seperti fenomena gunung es, di mana banyak kasus belum muncul ke permukaan.
KemenPPPA memandang karya tersebut sebagai pengingat penting bahwa kekerasan terhadap anak merupakan persoalan nyata yang bisa terjadi pada siapa saja. Oleh karena itu, dibutuhkan peran bersama seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat sistem perlindungan anak.
Dampak Grooming terhadap Korban
Sementara itu, psikolog klinis Arnold Lukito menjelaskan bahwa grooming dapat menimbulkan dampak psikologis serius bagi korban. Salah satunya adalah munculnya ketergantungan emosional yang tidak sehat terhadap pelaku.
“Dalam grooming ada unsur kontrol dan manipulasi. Anak dikondisikan untuk bergantung secara emosional, seolah-olah membutuhkan pelaku untuk merasa aman atau diterima,” ujar Arnold, dikutip dari 20detik, Selasa (13/1/2026).
Ia menambahkan, pengalaman grooming juga dapat memengaruhi cara korban memandang dan mengidentifikasi dirinya, termasuk dalam memahami relasi personal dengan orang lain.
“Korban bisa menganggap pola hubungan yang tidak sehat sebagai sesuatu yang wajar, misalnya dengan orang yang jauh lebih tua,” jelasnya.
Selain itu, rasa bersalah dan rasa malu kerap muncul dan menjadi beban psikologis jangka panjang. Dua emosi tersebut dinilai sangat kuat dan berpotensi meninggalkan luka mendalam jika tidak ditangani dengan tepat.










