CIREBON – Wali Kota Cirebon Effendi Edo menerima audiensi Aliansi BEM Cirebon Raya di Balai Kota Cirebon, Rabu (4/3/2026). Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog terbuka antara pemerintah daerah dan mahasiswa yang menyoroti satu tahun masa kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Cirebon.
Dalam pertemuan itu, Effendi Edo yang didampingi Penjabat Sekretaris Daerah Sumanto serta jajaran perangkat daerah menegaskan bahwa pemerintah tidak menutup diri terhadap kritik. Ia justru menganggap masukan mahasiswa sebagai bagian penting dalam dinamika pembangunan daerah.
“Kami dari jajaran pemerintahan tidak antikritik. Saya justru senang dengan kehadiran teman-teman semua di sini. Menyoroti kinerja kepala daerah selama satu tahun ini berarti saya sudah melakukan sesuatu. Kalau saya tidak disoroti, justru saya khawatir jangan-jangan saya tidak melakukan apa-apa,” ujarnya.
Ia juga menyebut jabatan yang diembannya sebagai tanggung jawab moral untuk membawa Kota Cirebon menjadi lebih maju. Menurutnya, meski masa kepemimpinan baru berjalan satu tahun, upaya mewujudkan visi pembangunan lima tahun akan terus dioptimalkan.
“Saya ingin mengubah kota kelahiran saya ini menjadi lebih baik. Wong kita asli wong Cirebon ya, jadi saya ingin kota saya setara dengan kota-kota lainnya di Jawa Barat. Memang baru berjalan satu tahun, sedangkan visi-misi kita untuk lima tahun ke depan. Namun, apa yang bisa kita optimalkan hari ini, besok, dan lusa, akan terus kita upayakan dengan maksimal,” kata dia.
Dalam dialog tersebut, Presiden Mahasiswa BEM Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ), Alief Bintang Angkasa, menyampaikan sejumlah tuntutan dari Aliansi BEM Cirebon Raya. Mahasiswa menyoroti berbagai persoalan mulai dari kesejahteraan guru honorer hingga perbaikan infrastruktur dasar.
“Kami membawa aspirasi terkait pemerataan sarana prasarana pendidikan dan gaji honorer. Selain itu, tata ruang kota seperti drainase untuk mengatasi banjir, kepadatan penduduk, hingga masalah transportasi umum dan penerangan jalan umum (PJU) harus menjadi prioritas. Kami juga menuntut transparansi data dan penjaminan status BPJS Kesehatan bagi warga kurang mampu agar tepat sasaran,” ujar Alief.
Menanggapi hal tersebut, Effendi Edo mengapresiasi aspirasi yang disampaikan mahasiswa. Ia juga mengajak generasi muda memahami dinamika birokrasi serta berperan dalam proses pembangunan daerah.
“Dulu saya juga pernah muda, pernah jadi mahasiswa seperti teman-teman. Insyaallah, mudah-mudahan ada generasi penerus dari sini yang nanti duduk jadi Wali Kota atau Bupati. Tugas saya sekarang adalah meneruskan perjuangan masa lalu, yang tidak baik saya buang, yang baik saya teruskan dan kita sempurnakan bersama,” ucapnya.
Ia berharap dialog antara pemerintah dan mahasiswa dapat menjadi ruang untuk menyelaraskan kebijakan dengan kebutuhan masyarakat.
“Semua tujuannya sama, demi mewujudkan Kota Cirebon yang lebih sejahtera dan tertata,” katanya.









