CIREBON – Pemerintah Kota Cirebon terus menata kawasan usaha sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui revitalisasi sentra pedagang bunga di Dukuh Semar. Kawasan ini diproyeksikan menjadi lokasi relokasi pedagang dari Kalibaru yang lebih tertata dan representatif.
Peninjauan langsung dilakukan Wakil Wali Kota Cirebon, Siti Farida Rosmawati, pada Selasa (6/4/2026) untuk memastikan proses pembangunan berjalan sesuai rencana serta memenuhi kebutuhan para pedagang.
Dalam keterangannya, Wakil Wali Kota menyebutkan bahwa pembangunan kawasan tersebut merupakan tindak lanjut dari dialog dengan para pedagang bunga. Pemerintah ingin memastikan relokasi tidak sekadar administratif, tetapi juga mampu menjamin keberlanjutan usaha mereka.
“Luas area relokasi sekitar 1.100 meter persegi dengan fasilitas 44 kios untuk para pedagang. Kami ingin memastikan semua pedagang dari Kalibaru dapat terakomodasi dengan baik di sini,” ujarnya.
Ia menambahkan, para pedagang kini mulai merasakan manfaat dari penataan kawasan yang lebih rapi dan nyaman. Pemerintah juga memastikan tidak ada pelaku usaha yang kehilangan tempat berjualan akibat relokasi ini.
Terkait progres pembangunan, penyelesaian proyek ditargetkan rampung dalam waktu sekitar dua bulan. Fasilitas yang dibangun meliputi kios tertutup dan terbuka yang disesuaikan dengan kebutuhan aktivitas pedagang.
Lebih jauh, Wakil Wali Kota melihat kawasan Dukuh Semar memiliki potensi untuk dikembangkan tidak hanya sebagai pusat perdagangan bunga, tetapi juga sebagai destinasi wisata baru di Kota Cirebon.
“Ke depan, kawasan ini bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata yang terintegrasi. Tidak hanya berdampak pada pedagang, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah sekitar,” ungkapnya.
Pengembangan kawasan ini juga diarahkan menjadi ruang multifungsi, mencakup aktivitas ekonomi, sosial, hingga spiritual. Dalam peninjauan tersebut, Wakil Wali Kota turut didampingi Wakil Ketua DPRD Kota Cirebon, Harry Saputra Gani.
“Kami ingin kawasan ini juga berkembang sebagai wisata rohani dengan memanfaatkan fasilitas masjid yang sudah ada, sehingga lebih hidup dan memberi manfaat luas bagi masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Harry Saputra Gani menyatakan dukungannya terhadap program revitalisasi tersebut. Ia menilai penataan kawasan Dukuh Semar tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan budaya yang dapat dikembangkan.
“Ini langkah yang sangat baik. Kawasan yang sebelumnya kurang tertata kini mulai berkembang menjadi lebih rapi, nyaman, dan memiliki nilai tambah,” ujarnya.
Ia juga menilai kawasan Dukuh Semar berpotensi menjadi ruang akulturasi budaya yang memadukan perdagangan, ibadah, hingga aktivitas kuliner. Dengan konsep terintegrasi tersebut, kawasan ini diharapkan mampu menjadi destinasi baru yang menawarkan pengalaman berbeda bagi pengunjung.
Revitalisasi ini pun diharapkan menjadi contoh penataan kota yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga memperhatikan aspek sosial, budaya, dan keberlanjutan ekonomi masyarakat.









