CirebonersID – Nama Jaya Dewata bukanlah sekadar julukan biasa dalam sejarah Nusantara. Ia merupakan nama lain dari Sri Baduga Maharaja, sosok raja besar dari Kerajaan Sunda Galuh yang dikenal luas sebagai Prabu Siliwangi. Di bawah pemerintahannya, sekitar abad ke-15 hingga awal abad ke-16, Kerajaan Sunda mencapai puncak kejayaannya.
Ia dikenal sebagai raja yang arif, bijaksana, serta mencintai rakyat dan alam. Tak heran bila nama Jaya Dewata melekat kuat dalam memori budaya masyarakat Sunda sebagai simbol kejayaan dan kepemimpinan yang luhur.
Nama ini kembali digaungkan dalam konteks yang lebih modern oleh Kang Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat terpilih. Ia memilih nama Bale Jaya Dewata untuk kantor kepemimpinannya, menggantikan sebutan lama seperti Gedung Pakuan atau sebutan administratif lainnya. Pemilihan nama ini bukan tanpa alasan yakni ada muatan simbolis yang kuat.
Melalui nama Bale Jaya Dewata, Kang Dedi ingin menghadirkan semangat kepemimpinan yang membumi namun sarat nilai luhur, sebagaimana yang diteladankan oleh Prabu Siliwangi. Bale dalam bahasa Sunda berarti rumah atau balai, tempat bermusyawarah dan memutuskan perkara penting.
Sedangkan Jaya Dewata membawa makna kemuliaan yang berakar dari sejarah panjang Sunda. Maka, Bale Jaya Dewata secara harfiah dapat dimaknai sebagai “rumah kepemimpinan yang membawa kemuliaan”, cerminan nilai-nilai Sunda dalam tata pemerintahan.
Pemakaian nama ini juga merupakan bentuk afirmasi terhadap warisan sejarah lokal yang selama ini cenderung kurang diangkat dalam struktur pemerintahan. Dengan menjadikan simbol-simbol budaya Sunda sebagai identitas kelembagaan, pemerintah provinsi Jawa Barat di bawah Kang Dedi mengukuhkan kembali nilai-nilai lokal dalam sistem administrasi modern.
Langkah ini disambut hangat oleh masyarakat, khususnya para budayawan dan sejarawan Sunda, karena menjadi bentuk nyata dari pelestarian nilai budaya dan sejarah. Lebih dari sekadar nama, Bale Jaya Dewata mencerminkan upaya membangun jati diri Jawa Barat yang tidak tercerabut dari akar sejarahnya.
Dengan demikian, Jaya Dewata tak lagi hanya hidup dalam naskah-naskah kuno atau cerita rakyat, melainkan hadir sebagai inspirasi nyata dalam dinamika pemerintahan saat ini. Langkah simbolis ini diharapkan bisa menjadi awal dari gerakan lebih luas untuk mengangkat nilai-nilai kearifan lokal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.










