CirebonersID – Istilah “Indonesia darurat seblak” ramai diperbincangkan di media sosial, khususnya TikTok, setelah seorang dokter dari Bandung membagikan pengalaman pasien yang mengalami masalah kesehatan akibat terlalu sering mengonsumsi makanan pedas khas Sunda tersebut. Fenomena ini memicu diskusi publik terkait pola makan remaja dan dampaknya terhadap kesehatan.
Unggahan dokter umum dr. Mariska Haris menjadi sorotan karena menyinggung seorang pasien remaja yang setiap hari makan seblak, bahkan bisa sampai dua kali sehari.
Pasien tersebut kerap tidak mengonsumsi nasi dan akhirnya didiagnosis menderita gastritis erosif atau radang lambung serius.
Menurut dr. Mariska, kasus ini bukan yang pertama kali ia temui. Ia menilai banyak anak muda lebih memilih makanan instan dan pedas seperti seblak ketimbang makanan pokok yang seimbang gizinya.
Kondisi itu dikhawatirkan bisa menimbulkan masalah kesehatan serius di masa depan.
Pakar gizi klinis dr. Tan Shot Yen juga menyoroti fenomena ini. Ia menjelaskan bahwa bahan utama seblak, seperti kerupuk, umumnya tinggi garam namun rendah nutrisi.
Ditambah dengan kuah pedas berlemak, seblak tergolong makanan yang tidak seimbang untuk dikonsumsi harian.
“Kalau dijadikan makanan pokok, jelas berisiko. Kandungan kalorinya tinggi, tapi gizinya rendah. Kalau terlalu sering, bisa berujung malnutrisi,” ujarnya.
Selain masalah nutrisi, dokter spesialis penyakit dalam dr. Aru Ariadno mengingatkan risiko jangka panjang. Konsumsi seblak berlebihan dapat memicu gangguan pencernaan, obesitas, tekanan darah tinggi, hingga penyakit jantung.
“Seblak itu enak, tapi tidak bisa menggantikan nasi, sayur, dan protein. Kalau dijadikan makanan utama, apalagi setiap hari, dampaknya bisa serius,” katanya.
Fenomena “darurat seblak” di media sosial juga mencerminkan tren gaya hidup remaja yang kerap terjebak pada makanan viral tanpa mempertimbangkan keseimbangan gizi.
Sejumlah warganet menilai istilah tersebut berlebihan, namun banyak pula yang mengaku mengalami ketergantungan pada makanan pedas instan.
Sebagai catatan, seblak memang populer karena rasanya yang gurih dan pedas, serta mudah ditemukan di berbagai daerah. Harganya yang terjangkau juga membuatnya digemari pelajar dan mahasiswa.
Namun, jika dijadikan konsumsi utama setiap hari, makanan ini bisa menimbulkan lebih banyak risiko dibanding manfaat.
Para ahli menyarankan masyarakat, terutama anak muda, untuk tetap mengonsumsi seblak secara wajar. Asupan makanan sebaiknya tetap beragam dengan kombinasi karbohidrat, protein, sayuran, dan buah.
Fenomena viral ini menjadi pengingat bahwa pola makan tidak bisa disepelekan. “Jangan tunggu sakit dulu baru sadar pentingnya nutrisi seimbang. Makanan enak boleh dinikmati, tapi tetap harus ada kontrol,” kata dr. Tan Shot Yen.
Dengan semakin banyaknya kasus yang muncul, istilah “Indonesia darurat seblak” bukan sekadar candaan warganet. Fenomena ini mencerminkan tantangan nyata dalam menjaga pola makan sehat di tengah tren kuliner viral yang digandrungi generasi muda.










