Serba Serbi

Tactogram dan Guiding Block: Inovasi Aksesibilitas Ramah Difabel Netra

×

Tactogram dan Guiding Block: Inovasi Aksesibilitas Ramah Difabel Netra

Share this article
guiding block

CirebonersID – Aksesibilitas ruang publik bagi difabel netra semakin mendapat perhatian seiring hadirnya berbagai teknologi sederhana namun fungsional. Dua fasilitas yang sering digunakan adalah guiding block dan tactogram, keduanya berbasis sistem taktil namun memiliki fungsi yang berbeda.

Guiding block atau ubin pemandu jalan adalah fasilitas umum yang banyak ditemukan di trotoar, stasiun, hingga terminal. Ubin berwarna kuning dengan pola garis memanjang berfungsi sebagai penunjuk arah, sementara pola bulatan menandakan titik berhenti, belokan, atau area penting seperti tangga dan pintu masuk.

Difabel netra dapat mengikuti jalur guiding block dengan menggunakan tongkat putih (white cane) atau indera peraba kaki. Fungsinya sangat penting untuk membantu mereka bergerak aman di ruang terbuka maupun fasilitas transportasi publik.

Sementara itu, tactogram hadir dengan konsep berbeda. Alih-alih sebagai jalur, tactogram adalah sistem simbol taktil berbasis bentuk geometris seperti lingkaran, segitiga, atau garis. Setiap simbol mewakili fasilitas tertentu, misalnya toilet, ruang tunggu, lift, hingga tangga darurat.

Tactogram dipasang di dinding, pintu, atau dekat akses masuk ruangan sehingga dapat diraba dengan jari tangan. Kehadiran teknologi ini memungkinkan difabel netra mendapatkan informasi detail tentang fungsi sebuah ruangan secara mandiri tanpa harus bertanya kepada orang lain.

Dari sisi fungsi, guiding block bisa diibaratkan sebagai peta jalur perjalanan, sedangkan tactogram berperan sebagai penanda detail lokasi. Guiding block membantu pengguna menuju titik tertentu, sementara tactogram memastikan keakuratan informasi ketika sudah sampai di tujuan.

Kombinasi keduanya menjadikan ruang publik lebih ramah dan inklusif. Difabel netra dapat bergerak dengan rasa aman berkat guiding block, lalu memverifikasi informasi spesifik menggunakan tactogram. Dengan begitu, kemandirian dan kepercayaan diri mereka dalam beraktivitas semakin terjaga.

Penerapan guiding block dan tactogram sebenarnya tidak membutuhkan teknologi canggih atau biaya besar. Namun, dampaknya signifikan terhadap kualitas hidup difabel netra karena membantu mengurangi ketergantungan pada orang lain saat beraktivitas di ruang publik.

Aksesibilitas berbasis teknologi inklusif ini juga sejalan dengan semangat pembangunan berkelanjutan (SDGs) yang menekankan prinsip “no one left behind.” Dengan penerapan fasilitas seperti guiding block dan tactogram, pemerintah daerah maupun pengelola gedung dapat menciptakan lingkungan yang lebih adil dan setara bagi semua.

Kedua fasilitas ini diharapkan bisa terus diperluas penggunaannya, tidak hanya di pusat kota atau fasilitas transportasi, tetapi juga di perkantoran, sekolah, rumah sakit, hingga ruang publik lainnya. Semakin luas penerapannya, semakin besar pula manfaat yang dirasakan oleh masyarakat difabel netra.