Lingkungan

Hujan Masih Sering Terjadi, Apa Penyebabnya?

×

Hujan Masih Sering Terjadi, Apa Penyebabnya?

Share this article
Musim Kemarau
Ilustrasi musim hujan. Foto: Pixabay

CirebonersID – Meski seharusnya sudah memasuki musim kemarau, hujan deras masih mengguyur sejumlah wilayah Indonesia hingga awal Juli 2025. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan publik, apa sebenarnya penyebab cuaca basah berkepanjangan tersebut?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa curah hujan dengan intensitas di atas normal mulai terpantau sejak Mei 2025 dan masih berlanjut hingga saat ini. Bahkan, hingga akhir Juni lalu, sekitar 53 persen wilayah Indonesia masih mengalami hujan lebat.

Wilayah yang terdampak meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagian Kalimantan dan Sulawesi, hingga Maluku dan Papua.

Anomali Cuaca Masih Berlangsung

Menurut data BMKG, pada 2 Juli 2025, curah hujan ekstrem tercatat di sejumlah titik, seperti Stasiun Geofisika Deli Serdang (142 mm) dan Stasiun Meteorologi Rendani, Papua Barat (103 mm). Ini menunjukkan bahwa kondisi atmosfer Indonesia masih sangat aktif.

Padahal, indeks Madden-Julian Oscillation (MJO) saat ini berada di fase 2 (Samudra Hindia), yang biasanya tidak mendukung pembentukan awan hujan secara signifikan.

Penyebab Utama Hujan Deras Berkepanjangan

BMKG menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan masih tingginya potensi hujan di banyak wilayah, di antaranya:

  • Monsun Australia yang masih lemah, sehingga tidak cukup kuat untuk mengalirkan udara kering ke wilayah selatan Indonesia.
  • Kelembaban atmosfer tinggi, terutama di bagian selatan wilayah Indonesia.
  • Suhu muka laut yang hangat, yang mendukung pembentukan awan konvektif dan hujan.
  • Aktivitas gelombang ekuator, seperti Rossby Ekuator, gelombang Kelvin, serta low frequency wave, yang mendorong terbentuknya awan hujan di sejumlah daerah.
  • Gangguan MJO di wilayah timur Indonesia, seperti Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua, yang ikut memperkuat pertumbuhan awan.

Waspadai Cuaca Ekstrem

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, seperti hujan lebat disertai petir, angin kencang, dan gelombang tinggi, terutama di wilayah perairan Indonesia.

“Kondisi atmosfer yang masih sangat dinamis harus diwaspadai, terutama di wilayah yang rawan bencana hidrometeorologi,” tulis BMKG dalam keterangan resminya, Senin (7/7).

Bibit Siklon Tropis dan Pengaruhnya

BMKG juga memantau adanya bibit siklon tropis 98W yang saat ini berada di sekitar Pulau Luzon, Filipina. Meski belum berdampak langsung ke Indonesia, sistem ini menyebabkan peningkatan angin permukaan (low level jet) di wilayah Laut China Selatan.

Selain itu, sirkulasi siklonik di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik turut membentuk zona pertemuan angin (konvergensi) dan pertemuan arah angin (konfluensi), yang memperbesar potensi hujan di wilayah:

  • Laut Jawa
  • Laut Flores
  • Sulawesi Tengah dan Tenggara
  • Maluku bagian utara

Fenomena hujan deras di musim kemarau bukan tanpa sebab. Kombinasi berbagai faktor meteorologis—mulai dari kondisi laut, monsun yang lemah, hingga gangguan atmosfer global—masih menyebabkan awan-awan hujan aktif di sebagian besar wilayah Indonesia.

Masyarakat diimbau untuk selalu memantau peringatan dini cuaca dari BMKG dan mengambil langkah antisipasi jika berada di wilayah rawan bencana banjir, tanah longsor, atau cuaca ekstrem lainnya.