Internasional

Paetongtarn Shinawatra, PM Muda Thailand yang Terjerat Skorsing Politik

×

Paetongtarn Shinawatra, PM Muda Thailand yang Terjerat Skorsing Politik

Share this article
Paetongtarn Shinawatra
PM Thailand, Paetongtarn Shinawatra.

Thai, CirebonersID – Thailand tengah menghadapi babak baru dalam dunia politiknya setelah Perdana Menteri Paetongtarn Shinawatra, sosok muda dan penuh ambisi, resmi disuspensi oleh Mahkamah Konstitusi pada 1 Juli 2025.

Skorsing ini menandai ketegangan baru dalam lanskap pemerintahan Negeri Gajah Putih yang belum sepenuhnya pulih dari riak-riak politik masa lalu.

Paetongtarn merupakan putri dari mantan PM Thailand, Thaksin Shinawatra, yang juga dikenal sebagai tokoh politik berpengaruh sekaligus kontroversial di Thailand. Lahir dalam keluarga politik, Paetongtarn tampil sebagai wajah baru dengan gaya kepemimpinan yang segar.

Ia menjabat sebagai Perdana Menteri Thailand sejak Agustus 2024 dan tercatat sebagai perempuan kedua serta perdana menteri termuda dalam sejarah negeri itu.

Namun, karier politiknya mendadak goyah setelah Mahkamah Konstitusi Thailand mengeluarkan keputusan untuk menskors dirinya atas dugaan pelanggaran etika.

Ia dituduh membocorkan isi percakapan telepon dengan mantan PM Kamboja, Hun Sen, yang memuat pembahasan sensitif terkait militer Thailand. Kasus ini tengah ditangani oleh Komisi Antikorupsi Thailand (NACC).

Sebagai dampak dari skorsing tersebut, Wakil Perdana Menteri Suriya Juangroongruangkit ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Perdana Menteri untuk sementara waktu.

Mahkamah Konstitusi memberikan waktu 15 hari kepada Paetongtarn untuk menyampaikan pembelaan atas tuduhan yang dialamatkan kepadanya.

Ketegangan politik semakin meningkat setelah Partai Bhumjaithai, salah satu partai koalisi pemerintah, memutuskan menarik dukungan dari pemerintahan Paetongtarn.

Aksi protes juga mulai bermunculan di berbagai titik strategis di Bangkok, menuntut kejelasan dan transparansi atas proses hukum yang tengah berlangsung.

Meski demikian, banyak pengamat menilai skorsing ini tak sekadar soal etika politik, melainkan juga cerminan tarik-menarik kekuasaan lama dan baru yang belum usai di Thailand.

Paetongtarn, yang mewarisi semangat reformis ayahnya, dianggap sebagai ancaman oleh sebagian elite lama yang masih bercokol di balik panggung pemerintahan.

Situasi ini membuka pertanyaan besar tentang stabilitas politik Thailand ke depan. Apakah Paetongtarn akan mampu melewati badai politik ini dan kembali ke kursi perdana menteri? Ataukah justru skorsing ini menjadi awal dari perubahan kepemimpinan yang lebih besar?

Waktu akan menjawab. Sementara itu, publik Thailand menanti kepastian arah pemerintahan di tengah ketidakpastian yang kembali membayangi negeri mereka.