CirebonersID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan sejak awal April 2024, bahkan sempat menembus angka Rp17.000 per dolar AS. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha dan masyarakat luas.
Penyebab Pelemahan Rupiah
Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal, antara lain:
- Penguatan Dolar AS: Data ekonomi AS yang solid mendorong penguatan dolar, sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
- Ketegangan Geopolitik: Kebijakan tarif impor oleh AS dan respons retaliasi dari negara lain menciptakan ketidakpastian di pasar global, memicu pelarian modal ke aset yang dianggap aman seperti dolar AS.
- Sentimen Pasar: Selama libur panjang Lebaran, pasar domestik yang sepi membuat rupiah rentan terhadap fluktuasi di pasar offshore.
Dampak terhadap Ekonomi
Pelemahan rupiah memiliki berbagai dampak terhadap perekonomian Indonesia:
- Kenaikan Biaya Impor: Barang-barang impor menjadi lebih mahal, yang dapat memicu inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat.
- Beban Utang Luar Negeri: Utang pemerintah dan swasta dalam denominasi dolar AS menjadi lebih mahal dalam rupiah, meningkatkan beban pembayaran.
- Tekanan pada Dunia Usaha: Pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor menghadapi peningkatan biaya produksi, yang dapat mengurangi margin keuntungan.
Untuk meredam tekanan terhadap rupiah, Bank Indonesia telah melakukan intervensi di pasar valuta asing, termasuk di pasar Non-Deliverable Forward (NDF). Selain itu, BI juga mengoptimalkan instrumen likuiditas untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.










