CirebonersID – Film Pabrik Gula, karya sutradara Mohammad Reza Fahriyansyah, tak hanya menawarkan cerita yang kuat, tetapi juga menyuguhkan latar tempat yang sarat makna historis dan simbolis.
Dua lokasi syuting utama, yakni di Pasuruan, Jawa Timur dan Bantul, Yogyakarta, dipilih secara cermat untuk memperkuat atmosfer cerita serta nilai-nilai yang terkandung dalam film pendek yang tayang di berbagai festival internasional ini.
Menurut penuturan Reza, pemilihan lokasi bukan sekadar estetika visual. Pabrik gula yang sudah tidak aktif di wilayah Pasuruan menyimpan sejarah panjang tentang kolonialisme dan dampaknya terhadap masyarakat lokal.
Bekas pabrik tersebut digunakan sebagai metafora dalam film untuk menggambarkan sisa-sisa kekuasaan dan luka lama yang masih membekas. Bahkan, atmosfer bangunannya yang suram dan lapuk, menciptakan nuansa yang mendalam dalam membangun narasi cerita.
Sementara itu, lokasi kedua berada di daerah Bantul, yang memperlihatkan kehidupan masyarakat pedesaan yang masih bergantung pada alam dan pertanian. Dalam film ini, latar Bantul digunakan untuk memperlihatkan keseharian tokoh utama dan masyarakat sekitarnya.
Perpaduan antara lanskap alam dan kehidupan sosial menjadi representasi yang kuat dari keterikatan masyarakat terhadap tanah mereka sendiri. Bantul juga dikenal dengan semangat gotong royong masyarakatnya, nilai yang juga menjadi benang merah dalam film Pabrik Gula.
Reza menyampaikan bahwa ia dan tim produksi melakukan riset yang mendalam selama berbulan-bulan sebelum memutuskan dua tempat tersebut sebagai lokasi utama.
“Kami tidak hanya mencari tempat yang indah, tapi tempat yang punya napas dan bisa bicara kepada penonton,” ujar Reza seperti dikutip dari lampost.co
Film Pabrik Gula sendiri telah meraih sejumlah apresiasi dan masuk dalam berbagai seleksi festival film, termasuk Sundance Film Festival 2024.
Cerita yang ditawarkan bukan hanya soal masa lalu, melainkan refleksi terhadap kondisi sosial saat ini, terutama bagaimana masyarakat memaknai warisan sejarah yang ditinggalkan dan bagaimana mereka berusaha berdamai dengan realitas tersebut.
Kedua lokasi tersebut secara tidak langsung menggambarkan kontras antara masa lalu yang gelap dan masa kini yang penuh harapan. Kehadiran unsur lokal dan kearifan budaya menjadi nilai tambah dari film pendek ini, menjadikannya tak hanya sebagai tontonan, tetapi juga bahan renungan.



















